Episode 11 : Liburan Para Kuman … [ Part III - JRL Day 1 ]
Hari ke 6 aka JRL HARI PERTAMA! HORE HORE HORE!
Hari itu juga kami memutuskan untuk hijrah ke rumah Biby. So the plan was, ke rumah Biby buat nganterin koper, trus langsung cabut ke Ancol. Yang paling diingat dari hari ke 6 ini adalah - selain JRL-nya itu sendiri - adalah taksi yang mengantarkan kami dari kost-an Sevi ke rumah Biby.
Dear Pak Nukman supir taksi Ekspress ituh,
PAK, BENERAN DEH. KALO GAK INGET SITU ORANG TUA, PASTI UDAH SAYA TENDANG SAMPE PAPUA!
Si bapak ini nyetirnya ugal-ugalan banget. Trus, karena kita juga belum pernah ke rumahnya Biby dan bukan orang Jakarta, wajar dong kalo kita gak bisa ngasih tau dia harus lewat mana. Lagian … SUPIR TAKSINYA SIAPA SIK?!
Yang bikin saya gak tahan adalah waktu dia ngedumel sendiri karena Fata kurang lengkap nyebutin alamat rumah Biby. Padahal cuma salah belok dikit aja loh. Nggak lengkap nyebut alamat itu tidak mengakibatkan kita nyasar sampe kutub utara juga, nyet!
Akhirnya, saya nggak tahan - dan demi menghindari saya untuk memaki atau bahkan melemparnya keluar dari taksinya sendiri - saya memilih untuk kita semua turun di depan Indomaret yang (waktu itu feeling saya sih) gak jauh lagi dari rumah Biby. Yang lebih HEBAT nya adalah, pada saat kita turun, supir taksi dari neraka itu gak turun untuk bantuin kita nurunin koper. Dia bahkan gak turun untuk nutup pintu bagasinya.
MATI AJA LO, PAK!
Kita nelfon Biby, dan dia bilang, rumahnya ternyata masih lumayan jauh dari situ. Ya berarti feeling saya salah. Akhirnya kita nyetop taksi lagi. Kali ini Blue Bird. Aduh, sayang saya lupa nama supirnya. Tapi bapak itu bener - bener bertolak belakang dari si Pak Nukman sampah itu tadi.
Bapak yang ini baik banget. Dia bahkan gak keberatan untuk nganterin kita yang - sebenernya - kalo dihitung secara argo, gak bakal nyampe 15 ribu.
Bapak supir Blue Bird,
terima kasih ya …
:’)
Oke.
Akhirnya, nyampe ke rumah Biby.
Leyeh - leyeh sebentar lalu … CUS KE JRL!
Naik busway.
HAHA.
Sungguh, naik busway ini pengalaman yang luar biasa.
Terombang - ambing bak di lautan cinta.
*dibuang ke Samudera Hindia*
Hore. Nyampe di Pantai Carnaval!

Dita, Awan dan “kacamata hitam 15 menit” mereka. HAHA.
( Mereka pasti ngerti maksud saya. xD )
Penampilan pertama yang paling pengen saya liat adalah SERINGAI.
Sayang, gitu nyampe, mereka udah mau selesai. Cuma kebagian satu lagi terakhir yang adalah ” Mengadili Persepsi “.
LAGU PAPORIT SAYAH!
Yang berbeda dari JRL tahun ini adalah, saya - mewakili majalah, tentunya - dikasih kesempatan untuk mewawancarai beberapa musisi yang mengisi JRL 2011. Yatuhan. Senangnya.
Di hari pertama, saya mewawancarai 3 band, yang adalah :

— We Are Scientists —

— Blood Red Shoes —

— PAS Band —
We Are Scientists dan Blood Red Shoes itu baik - baik deh. Ramah gitu. Dan sangat komunikatif. 10 menit nggak berasa. Kalo PAS Band - secara rame banget gitu - agak berisik. Haha. Tapi seru juga kok.
Skip ke bagian paling penting ya. Langsung ke jadwalnya 30 Seconds To Mars.
Lagi - lagi tahun ini saya mendapat bocoran tentang shitty attitude ala rock star dari Rini yang kebetulan (masih) menangani main stage JRL. Ah, nggak nyangka aja mereka ternyata kayak gitu.
Tapi, setelah menonton penampilan mereka, saya agak lupa dengan itu semua.
Maksudnya gini, saya ini bukan die hard fans nya 30 STM loh ya. Beda dengan Awan. Saya cuma suka beberapa lagu aja dan alasan saya rela menghabiskan waktu untuk menunggu mereka yang telat nampil adalah karena Shannon. HANYA SHANNON.
Mungkin mereka belum selegendaris Cranberries atau siapalah, tapi secara performance, penampilan mereka luar biasa. Dari tata panggung, song list, dan juga Jared yang sangat komunikatif dan juga sangat - SANGAT - pintar mengambil hati penggemar.
I mean, come on, Jared.
Aksi membawa - bawa bendera Indonesia di panggung itu sangatlah “kissing ass” sekali. Menurut saya loh ya. Ndak perlu segitunya lah, Mas.
Situ vokalis band apa anggota timnas sepakbola Indonesia sih?
Yang paling saya ingat adalah, momen dimana Jared mengajak penonton untuk melompat - lupa di lagu yang mana - dan kayaknya hampir semua penonton nurutin ajakan dia. Di saat itu, saya ngerasa tanah bergetar.
Beneran.
I literally felt the ground shaking. Agak parno, karena takut. Jangan - jangan malah gempa bumi. Ternyata saya nggak sendirian. Temen - temen yang lain juga ngerasain.
Banyak yang mencibir penampilan mereka, tapi buat saya, they were great.
Maksudnya gini, orang - orang pada beli tiket dan dateng untuk ngeliat penampilan sang musisi/band. Penampilan terbaik mereka. Menurut saya 30 STM sudah memberikan itu.
Ada yang bilang Jared Leto nggak bisa nyanyi. Jual tampang aja.
Yah, menurut saya sih, waktu dia nyanyi ” The Kill ” sambil gegitaran, suara dia baik - baik aja. Jauh lebih baik daripada Anang atau Raffi Ahmad lah.
Seenggaknya, dia nggak buta nada.
Kalo situ berharap dia punya suara kayak Josh Groban atau Andrea Bocelli, ya …… SALAH EVENT KALEEEE, MBAAAAK, MAAAAAS ~~~
Yang paling lucu sebenernya adalah orang - orang yang mempermasalahnya penggunaan kata “fuck” oleh Jared Leto.
Jadi ceritanya dia memilih salah satu penonton (cewe) untuk naik ke atas panggung. Trus, si cewe - dengan penuh birahi - naik dan berlari ke arah Jared, ngarep bisa meluk. Eits, Mas Jared menghindar dan bilang, ” Just get the fuck up ” (more or less) sambil nunjuk ke belakang panggung.
( Maksudnya, si Mbak itu disuruh berdiri di bagian belakang panggung aja. Masih keliatan kok ama penonton yang mungkin sebagian sudah menatap dengan penuh rasa iri … )
Trus, orang - orang langsung pada heboh dan bilang dia harus belajar cara ngomong ke perempuan. Terutama perempuan INDONESIA. Because that was offensive.
HAHAHA.
SERIOUSLY?!
Bok, guweh sih sebagai perempuan Indonesia yang cantik dan menggemaskan ga merasa tersinggung tuh. I mean, they’re a ROCK band gitu loh.
And let’s be honest, itu orang - orang yang protes kayak orang gila, emang sama sekali gak pernah pake kata yang sama? Kalau pun nggak langsung di depan perempuan-nya, seenggaknya ketika membicarakan si perempuan di belakangnya deh. Aduh aduh …
Ketika band rock lain - yang juga tampil di event yang sama - make kata “anjing”, “tai’”, “ngentot”, semua ketawa - ketawa. But when it’s Jared Leto, mendadak semuanya sensitif.
Testpack sekali.
Dan, menurut Rini, salah satu band rock kenamaan Indonesia yang tampil di hari kedua, pada nanyain ke Rini tentang itu. Rini BBM saya, ” Emang Jared ngomong apaan sih bok? ” Saya jelasin, dan si Rini ketawa.
I’ve tweeted this before but I’ll say it again,
” Yes, Jared needs to learn how to respect women from Indonesian men. They respect women so much, they wanna marry more than one. “
Well, at least most of them.
So, the point is, being NOT a fan of 30 STM, saya cukup puas kok dengan penampilan mereka. I came to watch a band perform, that’s what I got. Walau saya gak bayar tiket dan cuma bermodal ID Pers, tapi kalau pun saya harus bayar, saya gak bakal kecewa.
Seenggaknya juga, mereka - walau nampilnya telat - nggak pake acara pundungan macam band LABU tahun lalu itu. Yang vokalisnya, si botak itu, mendadak cabut padahal masih ada 3 lagu lagi yang belum dibawain. Lalu, dengan gampangnya bilang ke pihak panitia kalo dia udah ” gak mood ” lagi untuk nyanyi.
CIH! APA APAAN KAU, BOTAK?!
Tapi, ay stil loph yor ben kok.
ANYWAY …
Karena (minjem istilahnya Rini) anak - anak STM itu mulainya telat, pastilah selesainya juga telat. Kalo gak salah, hampir jam 2 pagi baru bubar.
Pas bubaran, saya ngeliat Steven dan Laura dari Blood Red Shoes lagi nongkrong di Simpati Stage. Saya langsung menoleh ke Dita.
Saya : Dit? Mau foto bareng drummernya Blood Red Shoes gak?
Dita : Haaaa? MAUUUUUUU~~ *nada manja menjijikkan*
Mia - yang baru nyampe Jakarta Jumat siang - dan juga Biby, langsung pengen ikutan. Dengan penuh percaya diri, saya menghampiri Steven yang lagi poto - poto bareng entah siapa. Fans-nya juga kali ya …
Saya : Hey Steven!
Steve : Hey!
Saya : We met earlier.
Steve : Oh? We did? *tertawa loetjoe* But I met a lot of people earlier.
Saya : Well, I …
Steve : OH YEAH! I REMEMBER YOU! The interview! *tertawa loetjoe lagi*
Saya : Yes, the interview. Hehe. *ja’im*
Steve : I remember you because I remember your t - shirt.
Sambil mengucapkan kalimat terakhir itu, dia menyingkirkan ID Pers saya dengan satu jari lalu menarik ujung kaos Radiohead saya.
#EAAAAAAAAAAA
#terbaringpasrah
Saya : SO, anywaaaay … My friends wants to take a picture with you. Is that okay?
Steve : Oh yeah. Sure, sure.
Lalu terciptalah ini :

Menurut pengakuan Biby, di foto ini, tangan Steven - entah sengaja entah tidak - sempat “mendarat” di bokongnya Biby. HAHA. Trus, dengan unyu-nya, Steven ngomong,
” Oh, I’m sorry. I’ve been drinking … “
Tapi tangannya ya tetep aja nemplok disitu.
CIEEEEH …. yang sempet di grepe Steven Ansell.
XD
Hampir jam setengah 3 pagi. Apakah kami langsung pulang? TENTU TIDAK!
Dikarenakan, Biby yang, sempet - sempetnya, reunian ama mantan. Trus, “anuh”nya Dita yang kehilangan kunci setang mobil yang mengakibatkan Dita merasa harus menunggui sampai kunci cadangan diantarkan. Karena Dita nungguin si “anuh”, Fata dan Awan juga jadi ikut nungguin demi menemani Dita.
Akhirnya, kita baru cabut dari Ancol sekitar jam setengah 4 pagi.
Masyaoloh.
Saya, Biby dan Mia berusaha mencari taksi di depan pintu masuk tapi yang ada hanyalah taksi - taksi tanpa argo yang memberikan harga FANTASTIS.
Dari Ancol ke Mampang = 200 ribu aja gitu.
Untungnya, kita masih nemu shuttle bus. Tapi itu pun belum menjadi solusi karena ternyata kami masih harus jalan muter - muter untuk keluar dari situ.
Akhirnya nemu jalan raya, nemu taksi dengan harga yang masuk di akal.
Perjuangan terakhir adalah berjalan kaki dari simpang rumah Biby. Dan saat itu, langkah kaki kami sudah diiringi oleh suara adzan subuh. Ngeliat jam tangan, eh … udah jam setengah 5 pagi aja, cyiiin~~
Dita, Fata dan Awan, baru nyampe rumah jam 6 pagi.
HAHA.
Sungguh hari pertama JRL yang penuh warna.