... dan inilah isi kepala saya ...

Episode 22: Indonesia, your system and the ones running it, can suck my dick!

Almarhum Papa saya menghabiskan hampir 20 tahun hidupnya di Angkatan Darat. Polisi Militer lebih tepatnya. Beliau pensiun dengan pangkat Letnal Kolonel. Bukan, bukan mau nyombong. 

Selama itu juga saya melihat beliau menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Dan satu hal yang saya banggakan dari Papa saya, dia nggak pernah berkompromi dengan yang namanya korupsi. Karena, kalau mau jujur, dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, yang pangkatnya lebih rendah, keluarga saya masih masuk kategori seadanya. Kita bukan keluarga yang liburan ke luar negeri setiap 6 bulan sekali atau setahun sekali. Kalau saya mau beli sesuatu, Papa jarang ngasih duit. Saya lebih sering disuruh nabung. Belakangan saya sadar, itu sebenernya adalah taktik. Karena biasanya, selama saya ngumpulin duit untuk beli barang yang dipengenin itu, biasanya malah jadi gak pengen lagi dan sadar kalau sebenernya saya nggak butuh. Cuma pengen. 

Untuk hal - hal yang dia tau penting atau benda - benda yang gak cuma bakal dipake seminggu - dua minggu, baru dia mau beliin. Itu pun saya masih disuruh nabung juga. Sisanya, baru ditutupin. Intinya, saya tidak dibesarkan sebagai anak yang manja. 

Untuk bisa punya rumah, mobil, dll, Papa punya usaha sampingan. Nggak perlu dijelasin usahanya apa, yang jelas, 3/4 dari biaya hidup diambil dari situ. Bukan dari gaji pokok. Karena, kalo menurut beliau, gaji pokok yang jujur itu gak bakal cukup. Karena, sebenarnya, Papa nggak hanya ngebiayain istri dan 2 anak, tapi juga keluarga yang lain (adik/kakak/abangnya). Derita menjadi anak sulung dari keluarga Batak yang (agak) sukses mungkin. 

Beberapa tahun di awal berjalannnya usaha sampingan itu, beliau “menampung” seseorang untuk bekerja di - katakanlah - perusahaannya. Setelah 2-3 tahun, orang itu dipercaya untuk jadi wakilnya. Sisi buruk Papa adalah, kadang beliau suka terlalu naif dan terlalu gampang percaya. 

Sekitar 5 tahun yang lalu, orang itu - sebut saja B (untuk Bangsat) - terbukti mencuri uang perusahaan. Dan jumlahnya ratusan … juta. Yang dilakukan Papa hanya memecatnya. Tidak menuntut, tidak meminta uang untuk dikembalikan. Terlalu baik? Mungkin. 
Yang mengesalkan adalah, saya nggak tau soal itu sampai di beberapa hari terakhir sebelum beliau meninggal.  

Tapi yang membuat saya geram sebenarnya adalah setelah Papa meninggal, si B(angsat) itu tadi menuntut bagian dari usaha Papa. 
BAGIAN APA?!
Usaha itu dibangun dari NOL oleh Papa SENDIRIAN.
Si B(angsat) yang menuntut TIDAK PUNYA MODAL/SAHAM SATU SEN PUN.

Abang saya - yang sekarang menggantikan posisi Papa di kelurga - jelas tidak terima dan membawa masalah ini ke jalur hukum.

Singkat kata, dari sejak meninggalnya Papa saya di bulan April kemarin, sampai detik ini, bolak - balik pengadilan itu termasuk kegiatan sehari - hari - mungkin bukan buat saya tapi buat abang saya.

Hal menjijikkan yang terjadi berikutnya adalah ketika kita berusaha menarik uang hasil usaha yang selama lebih dari 10 tahun disimpan Papa di salah satu bank swasta. Semua surat - surat yang dibutuhkan sudah lengkap, tapi pihak bank(sat) tidak mengijinkan uang itu untuk diambil dengan alasan mereka tidak bisa sembarangan memberikan uang sebanyak itu ke orang lain.
ORANG LAIN KEPALAMU!

Saya ada di ruangan itu ketika alasan itu keluar dari kepala cabangnya. Setelah diam, memperhatikan dan membiarkan pengacara keluarga yang bicara, saya akhirnya bertanya,

“Dibayar berapa memangnya sama si B(angsa) itu untuk menahan uang yang bukan miliknya?”

Hening sejenak, lalu keluar alasan - alasan lain dengan nada tinggi yang ekspresi wajah yang menjijikkan dari kepala cabangnya.
WHATEVER, FUCKFACE!

Masalah itu pun kemudian dibawa lagi ke jalur hukum.
Ironis.
Untuk mengambil hak sendiri, hasil jerih payah Papa saya selama 10 tahun lebih, pun harus dengan cara seperti itu.

Tapi, yang membuat saya AMAT SANGAT LUAR BIASA MARAH adalah ketika semalam, Mama saya bilang kalau HAKIM yang menangani kasus kami MEMINTA UANG.
Jumlahnya?
Rp.100.000.000 PAS.

Iya, nggak salah baca. SERATUS JUTA RUPIAH.
NGGAK LEBIH, NGGAK KURANG.

“Itu kalau kalian mau menang”, katanya.

The look on my Mom’s face when she told me about that last night and again today. Bedanya, hari ini Mama bilang kalau dia mau “minjem” uang yang udah disiapin untuk pernikahan saya tahun depan. How she told about selling some stuff JUST TO GET WHAT IS OURS! And how she was trying so hard not to cry and not say out loud how she wish my Dad was still around.

THAT broke my heart!

Coba diurutkan lagi:

Papa saya punya usaha yang dirintis sendiri selama bertahun-tahun —- berbaik hati menolong orang dengan memberikan dia pekerjaan —- dirampok —- tidak menuntut apa pun —- beliau meninggal —- hasil kerja kerasnya mau diambil orang lain —- kita menempuh jalur hukum —- orang yang HARUSNYA menjalankan hukum malah minta BAYARAN supaya kita bisa dapetin apa yang MEMANG milik kita?

WHAT THE FUCK, MOTHERFUCKER?!!

Dari dulu saya memang susah percaya dengan banyak hal di Indonesia ini. Mau dibilang tidak nasionalis? TERSERAH!
Mati pun lebih baik dibanding harus mengaku nasionalis dengan negara dan sistem tai macam ini.

And don’t give me that, “Selama lo masih tinggal di Indonesia, jangan jelek-jelekin dong! Lakuin sesuatu, jangan cuma ngomong aja” BULLSHIT.

Sampai mati pun saya nggak akan pernah bilang kalau saya BUKAN orang Indonesia. It’s in my blood, you stupid fucks. And how messed up this country is, I’m still gonna take pride in my nationality. Dan satu-satunya yang saya banggakan dari negara ini hanya alamnya. Selebihnya? SAMPAH!
(Ada sih orang-orang yang berprestasi dan segala macem, and I’m damn proud of them too, but where are they now? Pasti lebih banyak yang milih untuk kerja di luar negeri kan? Kenapa? Because they receive more appreciation there! Bad side of that, yang tinggal disini adalah yang TUA, BODOH, NGGAK BERGUNA atau yang muda tapi BODOH dan NGGAK BERGUNA. So, YAY!)
Jangan hanya karena saya masih tinggal disini, saya diharapkan diam aja ngeliat sesuatu yang tai’ banget. 

Lakuin sesuatu?
Well, I believe my dad did  A LOT to change that by not becoming one of those big bellied, ignorant, corruptor fuck.
And me?
I’m not gonna tell you what I’ve done because I don’t want you to think I’m bragging my ass off. That’s not how I was raised.
I might not win awards or medals for them, but I believe that I’ve done more than you nationalists.

I’m not a famous blogger or whatever who is trying to gather sympathy - hell, I don’t even think anyone would even bother to read this, especially with my kind of “polite” language - and I might be doing one of the useless things that can be done which is telling YOU, young people, TO STOP RUNNING THIS STUPID ASS SYSTEM!

You all are more educated, you’ve seen the world more than the generation before you. USE THAT AND MAKE SOME FUCKIN’ CHANGE, WOULD YOU?!

Demonstrasi di jalanan? GAK PENTING.
Gak usah jadi attention seeker lah.
Belajar aja yang bener trus perbaiki negara ini.
Orangtua lo setengah mati cari duit biar lo bisa kuliah, bisa belajar, bisa jadi pinter dan punya hidup yang lebih baik dari mereka. 
BUKAN SUPAYA BISA DEMO DAN BIKIN MACET JALANAN!
Nge-demo pejabat, tapi cita-citanya pengen masuk PNS juga biar bisa jalan - jalan di jam kerja tapi tetap digaji.
PUEH!

Saya udah banyak ngalamin kejadian - kejadian (kecil) dimana semuanya bisa “diajak damai” selama duitnya cocok (biasanya di persimpangan jalan). And I’m sure you have too. But this? THIS is fucking outrageous. And I am raged.

This December has been nothing but shit for me so far. And, I have a feeling, this will be the highlight of it.

So thank to you for your system and the ones that are running it, Indonesia.

If hell really exists, I hope you’ll enjoy your stay there later, in the afterlife.

Hold on, lemme put on my strap-on.

Okay.

NOW, you can suck my dick.

  1. pipiruma-puririnpa reblogged this from isikepala
  2. ladyclown reblogged this from hiddenmonkey
  3. hiddenmonkey reblogged this from isikepala
  4. ibaboyoubabo reblogged this from isikepala
  5. nurytriananda reblogged this from isikepala
  6. fuckyoufuckingwhore reblogged this from isikepala
  7. anggieka reblogged this from isikepala
  8. renypayus reblogged this from isikepala
  9. samyd reblogged this from isikepala
  10. esjeeeyfan reblogged this from isikepala
  11. amaliaindah reblogged this from isikepala
  12. isikepala posted this
Blog comments powered by Disqus