... dan inilah isi kepala saya ...

Episode 5 : AYO TAMPAR AKU LAGI! TAMPAAAR!

#eaaa banget gak sih itu judulnya?
Langsung kebayang adegan sinetron gitu.
Yah, minimal FTV deh.

Adapun tujuan dari postingan ini - selain sebagai cara saya yang lagi produktif menghasilkan sampah di malam minggu ini - adalah karena saya teringat beberapa minggu yang lalu, waktu si Mbak ini tiba-tiba ngomongin soal pasangan yang abusive. 

Satu :

Dua :

Tiga :

Semoga ngerti ya  gimana mbacanya. 
Dari bawah ke atas. Trus nanti lanjut lagi ke screen shot berikutnya.

Ehem.

*nyalain rokok*
*seduh kopi*
*bakar obat nyamuk*
*ngeronda*
*loh?*

Topik tentang KDHADAM atau Kekerasan Dalam Hubungan Antara Dua Anak Manusia *hening* sama hangatnya dengan pelukan saya topik keperawanan. Masing - masing orang punya pendapat yang berbeda - beda yang diambil dari sudut pandang yang beda juga. Ada yang menganggap nggak penting, ada yang menganggap penting tapi cuek, ada yang menganggap wajar, ada yang menganggap saya menggemaskan. Eh? Maap. Salah fokus.

Tapi, sebelum dilanjutkan, saya akan mengingatkan kalau kekerasan itu ada dua jenis. Kekerasan fisik dan verbal. Dua-duanya sama sakit. Bedanya, yang satu bekasnya kelihatan yang satu lagi nggak.

Saya pernah menjalani hubungan dengan seorang makhluk berjenis kelamin pria yang mengajarkan saya sakitnya kekerasan secara verbal itu. Selama satu setengah tahun saya diem aja waktu dia ngatain saya, ngebuat saya percaya kalau saya nggak ada artinya dan kalau saya nggak bisa apa - apa tanpa dia. Intinya, saya mengijinkan dia memanipulasi pikiran saya.

Ya sekarang sih saya udah bisa bilang kalau dulu itu saya emang bodoh luar biasa karena saya udah berhasil keluar dari hubungan itu.

Kenapa saya bisa bertahan dan rela membuang waktu selama satu setengah tahun dengan curut macam itu? Ah, itu terlalu personal. Ntar deh diceritain, sambil ngopi - ngopi plus nyemil gorengan.

Saya juga punya banyak teman yang masih menjalani hubungan seperti itu. Ada beberapa temen yang sekarang sudah menikah dengan laki - laki yang suka mukulin dia karena alasan yang sepele seperti : dia kelamaan dandan, salah ngomong, ketauan ngobrol sama temen cowonya. Curiga kalo dia salah ngelangkah - pake kaki kiri duluan - bisa dianggap jadi bahan untuk mukul juga. 
Tapi, ya itu … sayangnya dia malah memutuskan untuk menikahi laki - laki bermodal titit macam itu.

Apakah saya harus terharu, memutar lagu Joy Tobing lalu benyanyi, 
” Semuaaaa … karena cintaaaaa …~~ “ 
Hah!
Tai kucing.

*bau dong, mbak*
*yagitudeh*

Ya iya sih, katanyaaaa cinta itu buta.
Buta bukan berarti tidak bisa merasakan.
Ya iya sih, katanyaaaaa cinta itu tak ada logika.
*Agnes Monica muncul dari balik asap*
Tak ada logika bukan berarti tidak mendengar pendapat orang lain.
Sayang sama orang lain, bukan berarti nggak sayang sama diri sendiri.
Cinta itu berbeda dengan merubah diri menjadi sansak.

Ya udah sih, Yun. Biarin aja. Hak mereka juga mau berhubungan sama siapa, mau diperlakukan kayak sampah gimana juga.
Iya sih.
Cuma kalau itu adalah seseorang yang kamu kenal, apa masih bisa ngomong kayak gitu?

Tapi sama kayak yang Dee bilang, temen - sebaik/sedeket apa pun mereka ke korban - akan mencapai titik jenuh.
Saya sudah beberapa kali sampe’ ke titik itu.
Capek karena dianggap radio rusak.
Males karena orang yang berusaha dilindungi - karena saya sayang sama mereka - justru dengan senang hati dianggap sampah.
Muak karena dikit - dikit tuh yang dijadiin alesan, ” Tapi aku cintaaaa ama diaaa .. “
Cinta sih cinta, tapi coba ngaca deh.
Muka ente udah lebam - lebam gitu.
Cinta macam apa itu?
Cih.

And to actually marry a person like that?
Nggak usah deh mikirin diri sendiri - kalo emang udah ga mau juga - tapi coba pikirin anak - anaknya nanti?
Sama kayak yang di-tweet @indikawetjes yang adalah seorang ibu, (calon) ayah macam apa itu?
Kalau suatu saat nanti dia ngerasa nggak puas cuma mukulin istrinya trus mukulin anaknya juga, gimana?
Trus kalau anaknya perempuan dan ketika dia dewasa, dia juga jadi nyari (secara sadar atau nggak) sosok laki - laki seperti ayahnya trus diem aja (juga) kalau dipukulin karena ngeliat ibunya diem aja waktu dipukulin ayahnya, gimana?
Cinta lo ituuuuu nggak cuma menghancurkan diri lo aja kali, bok~~

Saya sih cuma mau ngingetin aja kalau setiap orang itu berhak untuk bahagia.
Dan bahagia disini bukan hanya dengan punya pasangan. Punya pacar. Punya suami.
Seseorang itu bisa bahagia tanpa itu kok.
Karena tanpa pacar/suami, masih ada keluarga, masih ada teman - teman yang - saya yakin - cintanya lebih tulus.
Seseorang juga bisa bahagia dengan uang yang buanyak.
*mendadak matre’*
*dibuang ke laut*

Dan jangan terlalu terhanyut dengan definisi menyeh - menyeh tentang cinta yang dilihat di film - film, didengar di lagu - lagu, dibaca di novel-novel.
Cinta itu bukan bunga yang dikasih setelah menghantamkan kepala pasangannya ke pintu mobil (true story).
Cinta itu bukan hadiah yang harganya juga gak seberapa yang dikasih setelah dia ngatain kalo pasangannya itu nggak ada artinya dan sama dengan sampah.

Bahkan ketika dia sudah berstatus sebagai suami, bukan berarti dia lebih berhak terhadap fisik istrinya dibanding istrinya sendiri. 
Your body is yours.
You get to decide what you want to do with it.
Always.

Love is about mutual respect.
From respect, you’ll get others.
Beating the shit out of you is not a form of respect.
Trust me.

You deserve someone better.

Saya sih tidak menyarankan kamu - kamu *nunjuk* sekalian untuk melakukan perjalanan ke India lalu ke Bali seperti buku/film Eat, Pray, Love. Atau ke pantai lalu ke hutan, seperti film Ada Apa Dengan Cinta. 
Cuma berusaha - sekali lagi, BERUSAHA - untuk mengingatkan kalau someone can hurt you - physically and emotionally - if you let them. 

Keliatannya aja sih susah untuk keluar dari hubungan kayak gini, tapi - percaya deh - gak sesusah itu kok.
Nothing good comes easy. If it does, usually, it doesn’t last.

Ah, banyak bacot lo, Yun.
Hm … ya terserah juga sih kalau mau dinilai kayak gitu.

Udah ah.
Semoga bermanfaat.
Jika tidak, silahkan coba toko sebelah.
Salam super!

Episode 4 : KOVERFACE 2011

Sabtu lalu, majalah saya ngadain KOVER FACE untuk yang ke dua kalinya. Apakah itu?
Itu adalah acara dimana kami mengumpulkan anak-anak muda kota Medan untuk diajak mabuk-mabukan bareng.

*astapiruloh*
*benerin kerudung*

Ya enggaklaaaah~~

Jadi itu semacam pemilihan model gitu deh, cyiin~
Ya ya ya, saya tau. Mungkin sebagian ada yang mikir,

” Ih, nggak edukatif banget deh acaranya. Apaan tuh? Acara yang cuma mentingin penampilan aja … “

Ya itu ada benernya juga. Tapi tantangan terberatnya adalah mencari orang-orang yang nggak hanya enak dilihat mata, tapi juga nggak ngebosenin kalau diajak ngobrol soal apa aja karena pengetahuannya nggak cuma sebatas Justin Bieber atau … sejenisnya.

Dan nggak cuma susah untuk nyari orang yang kayak gitu, untuk jadi orang yang seperti itu juga nggak gampang.

Sialnya, saya adalah orang yang bertanggung jawab untuk pertanyaan - pertanyaan untuk para finalis. Pengennya sih ngasih pertanyaan yang nggak terlalu “berat” tapi bisa nunjukin sejauh mana pengetahuan mereka. 
*sok idealis lu, dul*
*ya namanya juga usaha, mpok*

Nggak tau deh ya, dapet apa nggak.
Tapi kalo kata si Bobby Hermawan aka Bobo aka Bobby 2,

” Selamat, kak. Pertanyaan - pertanyaanmu menghasilkan orang - orang yang munafik. “

HAHAHA.
Bangke ah, Bobs!

Yah, setidaknya, saya nggak ada mendengar jawaban semacam,
” Saya ingin menciptakan perdamaian dunia, keadilan untuk seluruh penduduk Indonesia dan perlindungan hukum yang cukup untuk para TKI. “

Halah. 

Tahun lalu, saya nggak serepot tahun ini. Tahun lalu cuma bantu - bantu dikit aja. Tahun ini, nggak. Saya ada kesempatan untuk sedikit lebih mengenal adik - adik ( jieeeh … adik - adik nih yee .. *bakar KTP* ) finalis lebih dari sekedar namanya. 
Saya bisa ngeliat gimana cara mereka menghargai orang lain.
Saya bisa ngeliat gimana beberapa dari mereka merasa sudah selevel dengan Agyness Deyn. Sampe udah punya asisten segala. Untuk ngebenerin bajunya, untuk ngambilin minumnya, ngelapin keringetnya.
BOK! PLISDEH! xD 
Saya bahkan bisa melihat gimana, kadang, orangtua itu bisa jauh lebih terobsesi dibanding anaknya sendiri.

Dan saya juga jadi bisa ngeliat mana orang - orang yang emang bisa diajak kerjasama, mana yang bekerja cuma untuk cari muka (mungkin lupa mukanya ditaro’ dimana. Kesian….). Mana yang nggak jelas. Entah mau kerja, entah … lah. Mana yang bertanggung-jawab, mana yang nggak. 

Oh, tentu saja saya tidak menilai. Karena saya bukan guru.
Tentu saja saja saya tidak menghakimi. Karena saya bukan hakim.
#halahmini 

Kalau minjem kalimatnya George Clooney di film “Up in the Air”,

” I don’t judge. I stereotype. “

Ihik.

Intinya sih, terlepas dari ini - itu yang tidak mengenakkan, saya cukup senang bekerja sama dengan (sebagian) panitianya.
Terlepas dari kekurangan/kesalahan kecil sewaktu acara, saya senang karena saya dikasih kesempatan bekerja sama dengan orang - orang yang nggak cuma bisa koar-koar soal teamwork tapi sebenernya cuma pengen nyelamatin muka sendiri aja sih.

Ihik (lagi).

 

Yang paling menyenangkan tentu saja kesempatan bertemu salah satu fotografer favorit, Bang Tommy Siahaan. Kyaaaaa! Selama ini cuma bisa ngeliat hasil - hasil fotonya sambil ngucap, ” ANJRIT! INI KEREN BANGET! “

Dan tentu saja, lagi - lagi, wajah saya keliatan seperti pipi semua di foto ini. Ini bukanlah wajah yang berpipi, tapi pipi yang berwajah.
Hnnnnnnggggggghhh …
Tapi bisa jadi, ekspresi aneh saya di foto ini adalah karena tangan yang melingkar di pundak saya ituh.
Haiyaaaah~~~ 

Intinya sih, saya belajar cukup banyak dari kerepotan selama seminggu kemaren. Entah itu dari diri sendiri, entah dari orang lain.
* mulai merasa ingin mengutip kata-kata Mario Teguh lalu ditutup dengan kalimat, ” SALAM SUPER … MI” *
Saya juga berhasil menemukan level penghargaan yang baru untuk sebagian orang dan menemukan level kenajisan untuk beberapa orang. Tentu saja, yang merasa, dipersilahkan untuk balas najis ke saya. Nggak pernah memaksakan diri untuk disukai oleh semua orang kok.

Ihik.
( Kayaknya sih ini cegukan ya? )

Semoga bisa kerja bareng lagi ya, Fataaaaaaaaaa~~
Secepatnya!
#kode
#kodepos
#20239
Halah. 

Episode 3 : Jangan Hanya Karena …

Saya paling nggak suka orang - orang yang punya prinsip “Karena”.
Nyakitin orang hanya karena dia bisa.
Nggak menghargai orang lain hanya karena dia bisa.
Bohong hanya karena dia bisa.
Karena … saya/aku/gue bisa.
Orang - orang kayak gini biasanya cuma pantes diludahin trus dijorokin ke sumur.

Saya juga nggak suka orang yang ngerasa dia yang “paling” hanya karena satu atau dua hal.

Paling bener karena umurnya paling tua.
( Kalo paling dewasa, boleh deh bangga. Lah ini cuma menang TUA aja kok ya norak?! )

Paling suci karena mungkin - sekali lagi, MUNGKIN - dia merasa - sekali lagi, MERASA - paling rajin berdoa.
( Eh, bok! Plisdeh. Lo pikir Tuhan itu sebego apa sih? Emang kalo lo udah berdoa 2762 kali dalam sehari dan ke rumah ibadah 17364927 dalam seminggu udah pasti bakal masuk surga? Lo pikir Tuhan nggak ngeliat kelakuan lo yang lainnya? Yang suka ngomongin orang? Yang suka ngurusin orang lain mau bergaul sama siapa, temen - temennya temen lo itu kayak apa? Ngapain juga lo ngurusin hidup pribadi orang lain? Emang lo yang ngelahirin? Lo ngasih makan, ngebesarin, nyekolahin, dan sebagainya? Heran deh! Jadi manusia kok ya nggak punya kerjaan banget! )

Paling pinter karena pernah sekolah di luar negeri. 
( No offense nih ya … saya sih bisa gampang aja nyari orang yang sekolahnya di dalam negeri dan dengan tingkatan pendidikan yang lebih rendah tapi dengan cara berfikir yang lebih oke dari manusia - manusia yang berasa paling oh-my-god-keren-banget hanya karena pernah sekolah di luar negeri. Buat saya mah, kalo dasar mental kampungan, ya kampungan aja. Gak perduli mau pernah sekolah di luar negeri apa di luar tata surya sekali pun. ) 

Kapan sih orang - orang tuh bisa sadar kalau dia akan lebih dihargai tanpa dia harus koar -  koar minta dihargai?
Kapan sih bisa ngerti kalau seseorang itu baru bisa dihargai kalau dia udah lebih dulu menghargai orang lain?
Kapan sih bisa inget kalau dia juga cuma manusia biasa yang bisa - dan pasti - pernah dan akan punya salah ( jadi nggak perlu lah berlagak paling bener sedunia akhirat )?
Kapan sih bisa menyadari kalau sekarang - di tahun DUA RIBU SEBELAS ini - jadi manusia yang suka ” cium pantat ” - atau istilah internasionalnya “kissing ass” - dan munafik itu udah sangatlah tidak aptudet? Lagian, emang nggak bau apa, nyium - nyium pantat orang? Mending nyium pantat bebek gih.

* laaaaaah?! Apa bedanya, Mbak?! *

Orang - orang kayak gini nih, bener-bener … apa ya … sampah banget deh! Tipikal sampah yang untuk di daur ulang pun tak bisa dan tak pantas. Sungguh!

Saya sih nggak (berusaha) bilang kalau saya ini yang paling bener. Sumpah deh. Justru karena saya sadar saya cuma manusia biasa, makanya saya paling males ngeliat manusia yang prototype-nya kayak gini. Rasanya ingin mengoles cabe ke seluruh wajahnya. 

Sebentar.
Saya mau minum dulu.
Haus juga abis marah-marah gini.

*commercial break*
*disponsori oleh SO NICE*
*halah*

Nah.
Jadi ada pun penyebab saya sedikit berdrama seperti ini adalah karena, kebetulan ini yang ada di kepala saya. Saya agak SHOCK aja gitu. Di umur saya yang … segini ini … saya masih harus berhadapan dengan orang - orang bermental anak SD kayak gini. Telat banget sih perkembangan jiwa lo - lo padeeee~~
Masa baru ngejalanin fase kayak begini di umur yang nggak muda lagi?
Dulu kemana aja?
Kebanyakan nonton shitnetron ini pasti.
PASTI!
Idolanya pasti Shireen Sungkar deh.
.
.
.
Oke. Mulai hilang fokus.

Intinya, kalau lo mau punya hidup yang ribet dan penuh drama, silahkan. Tapi tolong jangan bawa - bawa orang lain.
Kalau mau dihargain, mbok ya belajar menghargai orang lain dulu. Percuma dong sekolah tinggi - tinggi di pohon kelapa dan jauh - jauh sampai ke kutub utara, kalau prinsip paling sederhana seperti itu pun nggak bisa ngerti.
Nggak usah terlalu sombong kalau jadi manusia. Baru jadi manusia aja sombong. Gimana kalau jadi patung pancoran?!

*hening*

Dan jangan mentang - mentang selama ini didiemin, terus berasa semakin birahi untuk menginjak - injak orang lain. Ini orang woi! Bukan keset! Enak aja lo main injek!

Jadi begitulah, para pemirsa sekalian.
Semoga postingan yang rada nggak jelas ini bisa diambil hikmahnya. Kalau nggak bisa … ya mungkin karena emang nggak punya hikmah.

*penulis yang nggak jelas*

Saya. Cuma. Lagi. Muak. 

Sekian dan terima iPhone 4. 

Episode 2 : Funklastic

Jadi … hari ini ada acara ini :

Acaranya diadain oleh Garage Hours dan juga Klastic Medan. Salah satu pria yang bertanggun jawab atas semua ini *halah* adalah Zulfahmi Purba ( penting banget ini, Mi … Bawa-bawa nama asli. HAHA. ) aka @sipoerba ( kalau tinggal di Medan dan pengen beli toycam/lomo atau roll film dan sejenisnya, boleh loh menghubungi beliau … #bukanpostinganberbayar .. )

Acaranya sih mulai pagi banget. Soalnya ada acara hunting foto segala yang hadiahnya adalah piagam dari pak presiden sebuah instax dan Diana Mini. Saya dateng belakangan. Niat hati pengen dateng sekitar jam 10-an. Apa daya saya ketiduran setelah mandi sekitar jam 9. Bagaimana seseorang bisa ketiduran setelah mandi? Entahlah. Yang jelas saya bukti nyata kalau hal itu mungkin saja terjadi. Jadinya baru nyampe di lokasi sekitar jam dua belas kurang. Hunting foto-nya sih udah selesai. Saya cuma nebeng kongkow-kongkow ( aduh plisdeh bahasanya, Mbak … ) bareng mereka aja. Biar dikata gaul. Ehem.

Ini namanya Dita. Iya, saya tau. Dia cantik.

*menundukkan kepala*

*minder ceritanya*

Dan ini adalah Fahmi. Tampang aslinya gak kayak gini kok. Ini dia lagi pasang tampang ganteng aja. #eh

*ditendang Fahmi*

Nah. Kalo yang ini, dari kiri-kanan, ada : Irfan, Mbak-mbak berjilbab yang tadi belum sempet kenalan (maaf ya, Mbak…), Astrid, Doley, Fata, Fahmi dan … si Dita lagi. 

Secara keseluruhan, acaranya seru. Yah walaupun saya datengnya telat banget. Tapi saya yakin kok, acaranya pasti seru. Mudah - mudahan bakal ada acara kayak gini lagi deh. Kalau bisa, setiap minggu ya, Mi? Biar bisa numpang gaul lagi.

HAHA.

Maaf, belum sempat berkenalan sama semuanya ( berasa mereka mau kenalan ama saya … ). 

Sampai bertemu di acara Garage Hours dan Klastic Medan lainnya.

*melambaikan tangan*

*ga ada yang perduli*

*tetap melambaikan tangan*

*satu - persatu pamit pulang*

— the end —

Episode 1 : Ini blog apa?

Nggak tau kenapa, sejak kenal sama yang namanya “blog” - entah tahun berapa - saya jadi semacam punya hobi untuk punya satu blog untuk hal - hal yang berbeda. Dulu sempet punya beberapa akun di blogspot, trus nyoba “selingkuh” ke Wordpress. Abis itu nyobain LiveJournal trus … lupa dimana lagi. Sampai akhirnya “kenalan” dengan tumblr. Sejujurnya, tumblog saya ada lebih dari 3. Tapi demi keselamatan bersama, biarlah saya tidak usah menjelaskan satu persatu. Cukuplah kalian tau - itu juga kalau mau tau - yang ini saja. Dan, tentu saja, yang baru ini.

Kadang saya merasa suka agak sedikit OCD. Pengennya itu punya blog yang beda - beda untuk disampahin isi kepala saya yang juga sering sangat random. Kalau di akun blogspot saya yang sekarang, itu lebih bersifat personal. Tapi, tetap diusahakan untuk tidak terlalu personal. Itu lebih cocok untuk disebut diary digital saya.

Kalau tumblog yang ini, saya sebenernya juga udah ga tau lagi arah hidupnya itu mau kemana. Sungguh random. Yang tadinya ga pengen diisi dengan reblog-an, ternyata jadi terisi juga. Itu adalah akibat dari sisi labil saya.

Nah! Yang ini … buat apa ya? Buat isi kepala saya? Bener sih. Tapi bukan berarti blog yang lain itu ga ada artinya ya … Ada sih. Cuma ga tau kenapa, pengen aja bikin blog yang baru lagi untuk hal - hal yang … lain. Mudah - mudahan ini gak berakhir dengan saya yang tiba - tiba males update. Mudah - mudahan ini bisa di “sampahin” setiap hari dengan hal - hal gak penting dalam hidup saya. Atau pendapat tentang apa yang terjadi disekitar saya yang males saya tweet. Karena, sejujurnya, saya bukan tipikal orang yang males ngetweet sampe panjang banget tentang satu hal yang sama. Yah kalo memang bakal butuh lebih dari 140 karakter dikali 5, ya di blog aja kaleeee~ Jangan kayak orang udik deh, ga bisa ngebedain mana micro - blogging mana yang bukan.

Eh, tapi itu saya loh yaaa~ Saya bukan “seleptuit” sih. Jadi ga ngerasa perlu ngetweet panjang - panjang soal kisah hidup saya yang sedih dan mengharukan selayaknya reality show sampah di televisi hanya supaya ada yang bilang, ” Follow si anuh deh. Ceritanya sedih beudh … ” Atau apalah gitu. Yang serupa.

*ehem*

Um … terus … apalagi ya …

Ya udah deh. Segitu aja dulu. Bingung juga mau ngomong apalagi (kayak ada aja yang perduli). 

Intinya sih cuma satu :

saya punya (tum)blog baru. 

Lagi.