... dan inilah isi kepala saya ...

Haloh

Episode 28: Indonesian Logic.

Salah satunya adalah: Pembagian kondom gratis = mendukung seks bebas.

Cerdas.

Who taught these these people to be so stupid?
Oh right. It’s part of the “adat timur”.
Ngok.

Di link berita itu, jelas yang ditulis (sebagai alasan utama) adalah:

Nafsiah further explained that free condoms would only be distributed among the “high-risk” poor, saying the government would not let them contract sexually transmitted diseases, including HIV/AIDS, just because they could not afford condoms.

Trus, kenapa itu bisa jadi dianggap mendukung seks bebas?

Temen saya yang kebetulan kerja sebagai seorang radiologist di sebuah rumah sakit di Perth kemaren pernah cerita kalau rumah sakitnya ngebuka satu “pos” di salah satu daerah lokalisasi yang gak jauh dari rumah sakit. Setiap hari ada 2-3 orang yang jaga disana dan siap memberikan informasi soal STD atau sekedar ngobrol soal birth control pills dan ngasih kondom gratis. Karena mereka sadar, daerah itu dan orang - orang yang tinggal disana nggak bisa disuruh berhenti untuk have sex - selain karena itu lokalisasi ya urusan mereka juga sih mau have sex atau nggak, ngapain juga dilarang? - pendekatan yang memaksa, apalagi memojokkan, itu nggak akan ngebuat keadaan jadi lebih baik. 
Pihak rumah sakit (tempat teman saya bekerja itu) berfikir,”If you can’t make them stop (doing unsafe/unprotected sex), we could at least help them so they’d be aware”. 

Ya terus kenapa kalo anak-anak remaja itu mau dikasih kondom gratis? 
I mean, who are we kidding here?
9 out of 10 teenagers nowadays are already familiar with sex, amirite?
Let’s say you can stop 3 out of those 9. Trus yang 6 lagi, gimana?
You can’t stop them so you’re just going to let them have unprotected sex?
Trus, ntar kalo hamil - entah bayinya dipertahankan atau memutuskan untuk aborsi - disidang rame-rame karena situ merasa paling bener dan suci? 
What kind of method is that?
Really.
Trus kalo mereka akhirnya kena AIDS, mau ngomong apa lo semua?
Mau nyalahin anaknya juga? Ngebantu gitu?
AIDS-nya langsung sembuh gitu?  

Protes dana 25 milyar itu kebanyakan?
Bitch, please.
Itu dana buat gedung DPR lo berapa emangnya?
Buat ngebayarin monyet-monyet DPR itu jalan-jalan studi banding (yearite) sekeluarga ke luar negeri, berapa emangnya?
Itu hasil korupsi departemen agama, udah berapa emangnya?
Budget buat beli hairspray Ibu Ani Yudhoyono, berapa?
Ngok. 

Kids and/or teenagers aren’t supposed to be pressured to be perfect, especially by adults. 
Adults can’t really tell them what to do because they’re all individuals with different ways of thinking.
Adults can only tell them about the risks in every action because adults are expected to know better because they were once kids/teenagers. 

Why can’t we just accept the fact that people are going to fuck no matter how hard you try to stop them?
Why can’t we - well, most of us - accept the fact that what one wishes to do with one’s body is none of your business?
Why can’t some people just … get over the whole “adat timur” crap and just stop being so hypocritical?

Saya sih mikir kalo itu ide yang bagus; pembagian kondom dan memberikan sex education di sekolah-sekolah. Hanya karena nantinya akan ada orang-orang yang bakal bawa-bawa kondom kemana-mana trus langsung bakal berhubungan sex ama siapa aja atau apa aja termasuk tiang listrik.
Bok, plisdeh.
Not all of us are as dumb as you are. 

So yeah. 
What I’m trying to say is, tolong lah … udah 2012 loh ini. Mbok ya otak itu dipake gitu.
Anak lo sekali pun gak bakal bisa lo pantau 24 jam dalam sehari. Yang bisa lo lakuin cuma ngasih tau soal resiko ini - itu dari setiap keputusan yang bakal dia ambil dalam hidupnya — oke, oke … termasuk pendidikan agama deh (demi menyenangkan para kelompok relijius di luar sana). 

I don’t have kids yet, but I do have a 15 (going 16) year-old nephew. And personally, I’d feel better about him knowing what sex, condoms and AIDS are at his age rather than shutting him down from reality only to feed him nothing but religious words from the bible. That and a good dose of what “being responsible towards your actions” means. 

Demikian.

*bagiin kondom satu-satu*
*rasa Nasi Padang

Episode 27: Haruskah Saya Belajar Masak?

Wah. Postingan terakhir ternyata dua bulan yang lalu. Sungguh tak terasa waktu berlalu.
*rambut tertiup angin*
*menatap langit*

Dua bulan yang lalu, eike masih belum jadi istri. Sekarang, udah jadi istri orang (yaiyalah, masa istri bonsai?). Untuk cerita tentang hari bersejarah itu *halah*, bro en sis sekalian bisa klik disini

Waktu yang kurang dari 2 bulan mungkin ngebuat saya belum pantes untuk ngasih-ngasih tips soal berumahtangga. Ya emang tujuannya juga bukan itu sih. Cuma, hal-hal yang dulu saya pikir gak bakal pernah saya hadapin, sekarang - satu - satu - udah mulai muncul. Salah satunya yang ditulis di judul.

Beberapa hari setelah nikahan, temen-temen (sekolah/kuliah) pada ngasih selamat lewat Facebook. Ada yang lewat message, ada yang ‘nulis di dinding’. Selain pada nanyain kenapa gak diundang (yang jawabannya adalah: karena guweh emang ga pengen ngundang elu. Masalah?), banyak yang sok ngasih tips gitu soal hidup berumahtangga *aseeek*.
Yah mungkin karena mereka udah pada duluan nikah dan bahkan udah ikut menambah populasi dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya alias … beranak pinak.

Nah, salah satu TIPS yang paling banyak dikasih itu adalah,”HARUS siap-siap masakin suami”. Sebelum dilanjutkan, mohon diingat, memasak bukanlah salah satu keahlian saya. Bukan berarti cuma bisa masak mie instan juga, tapi —- ya … emang gak bakat aja masak. Beda ama sang suami yang jago masak (seenggaknya kalo dibandingin ama saya).

NAAAAAAAAAAH! 
Yang saya heran, untuk ‘tips’ yang satu itu, semuanya mendadak panik waktu saya bilang,”Wah, aku ga pinter masak nih. Lebih pinter suami. Jadi udah bagi tugas, dia masak, ntar yang beres-beres itu aku. Soalnya dia gak suka beres-beres”.
9 dari 10 langsung bilang,”IH, GA BOLEH GITU! Istri itu tugasnya masakin suami. Ntar dia minta dimasakin ama perempuan yang laen loh …”
(EMAKNYA MAKSUTLO?!)

Jadi begini ya …
saya selalu percaya kalau pernikahan atau rumah tangga itu adalah jalan dua arah, atau kalau dalam bahasa Bataknya, two way street *gundulmu*.
Walau saya lahir dan besar dari keluarga Batak (PUOL) yang tinggal di Indonesia, saya gak pernah berfikir kalo rumah tangga itu adalah sesuatu yang harus dijalani dengan kewajiban-kewajiban bawaan.
Maksudnya gini, kewajiban ya itu pasti ada untuk masing - masing istri/suami, tapi … pernikahan itu juga harusnya ada toleransi dan pengertian.
Bukan begitu, bukan?

Kewajiban suami memang untuk bekerja dan membiayai keluarganya, TAPI kalau ada kejadian yang ngebuat suami di PHK, gak ada salahnya kan kalau istri yang menggantikan tempatnya, setidaknya untuk sementara?

Kewajiban istri memang untuk merawat anak, TAPI kalau si istri sakit atau memang lagi sibuk banget (mungkin karena kemaren ngelahirin kembar 12), gak ada salahnya kan kalau suami ikut membantu mengganti popok, memberi makan atau memandikan anak? Toh kemaren juga ‘ngebikin’nya bareng-bareng kan?
Dan si istri udah mempertaruhkan rumah nyawa untuk ngelahirin anak itu. 
YAMASA IYA SIH BANTUIN DIKIT AJA GA MAUUU!
(Jika berminat, saya punya banyak kenalan pria - yang sekarang sudah punya anak - yang kelakuannya kayak begitu. Kayaknya kalo ngebantuin istri dikiiiiiiiit aja ngurusin anak, tititnya langsung hilang dan besoknya dia pipisnya gak berdiri lagi tapi jongkok.) 

Suami-suami yang saya kenal, yang rata-rata Batak dan Indonesia, itu kadang suka gak mikir sampe kesana. Kayaknya, kalau udah pulang kerja, dia adalah orang paling capek sejagat raya dan sang istri yang di rumah aja - ngurusin anak (kalau babysitter ada 20 orang, itu lain cerita) - itu rasanya kayak kerjaan yang gak ada apa-apanya. Paling nyantai, kayak orang buang angin. 
Pret, gitu.

Shouldn’t it be about teamwork?

"Tapi kan itu bagian dari budaya Timur, Yun? Untuk melayani suami."
Aduh, maap. Budaya Timur itu lebih terkesan seperti nama makanan ringan buat saya.
Saya lebih seneng jadi orang yang tak berbudaya.
*sibak poni*
Dan istilah ‘melayani’ itu … um … gimana ya … kesannya istri tuh babu banget deh.
Kenapa harus melayani sik?
Kenapa gak ‘mengurus’?
"Mengurus suami" — kan lebih sedep ngebaca/ngedengernya. 

My mom taught me enough on how to be an Indonesian AND a Batak woman who will one day become a wife. And now that I am a wife, I do know my ‘job descriptions’ and whatnot. BUT, that doesn’t mean I’m going to do everything by myself just because I’m the wife. That’s not how it’s suppose to roll. At least not in my world anyway. 
Everything in a marriage is a teamwork. It takes two to have one (marriage) to work.

Jadi, intinya adalah, jangan terlalu ngikutin ‘budaya’ deh.
Kewajiban itu beda dengan keharusan.
Yang laki-laki, jangan terlalu egois lah.
Dan perempuan yang kebetulan dapet suami yang baeeeeeeeeek banget, jangan langsung jadi kayak Belanda atau Jepang (baca: menjajah -red).
I know A LOT of that kind of woman and they make me sick to the bones.

Dan, pertanyaan di judul itu sebenernya retoris, karena saya udah tau jawabannya.

Saya tidak harus belajar masak karena, seperti yang udah saya bilang tadi, pria yang saya nikahi bener-bener gak perduli soal itu dan ketidakmampuan saya memasak bukan berarti saya gak bakal ‘ngurusin’ dia selayaknya istri. It’s just us - as a married couple - compromising and understanding. 
Tapi, saya bakal belajar masak.
Bukan karena harus, bukan karena disuruh/dipaksa (suami), tapi karena saya memang pengen.
Seenggaknya masak makanan yang gak ngebuat dia diare lah.
XD

Jadi demikianlah postingan kali ini.
Semoga berguna bagi nusa dan bangsa.

*hormat bendera*
*bendera Slank*

Episode 26: *gak nemu judul yang ho’oh*

O HAI BRO DAN SIS SEKALIAN! 
APA KABAR DAN SALAM SUPER!

*ditujes Mario Teguh*

Ada sesuatu yang mengusik hati dan fikiran saya hari ini *TSAAAAAAAAAAAH~*.
Ya sebenernya lebih ke memancing emosi sih.
Untuk bro dan sis sekalian yang (mungkin) di Medan atau sekedar tau informasi dari media dan - ofkors - Twitter, pasti sudah tau kalau hari ini ada banyak demo di beberapa kota/daerah di Indonesia.

Penyebab?
(Menolak) Kenaikan BBM.
Sebelum terjadi salah paham, BBM disini bukan BlackBerry Messenger ya?
*ba dum tss*
Oke?
Oke.

Udah berapa kali sih BBM di Indonesia ini naik?
Saya sih jujur gak inget dan terlalu males untuk nge-gugel dulu jadi kalo situ mau nge-gugel sendiri, sok atuh … silahkeun~
Dulu itu sebelum resmi naik, pada demo juga kan?
Pada berisik.
Pada ketakutan apa-apa bakal ikutan naik.
Ini lah, itu lah.
Tapi pada akhirnya semua normal juga. Semua pada beradaptasi.

Bedanya, yang namanya demonstrasi belakangan ini lebih jadi ajang aksi rame-rame sekelompok orang yang (saya yakin) 70 - 80% itu sebenernya gak tau pasti dia lagi ngedemo apaan. Cuma ngerame-ramein aja.
Jatohnya jadi rusuh dan mereka itu, di mata saya, berubah jadi sekelompok orang dungu yang cuma berani keroyokan biar diperhatiin.
A bunch of attention seeker whore.
Yes, YOU!

Postingan ini sih bukan kelas kuliahan gitu, blog ini juga. Tapi kalau setau saya, banyak negara-negara lain yang harga BBM-nya itu jauh lebih mahal daripada kita. Yang pastinya aja nih ya, menurut sumber terpercaya yang adalah tunangan saya, di Inggris itu seliter bensin aja (sekitar) 20.000 IDR/liter.
DUA. PULUH. RIBU.
Trus, kalo disini dinaekin sampe 10 apa 12. 000 aja, masih belum ada apa-apanya juga loh.
Atau, gak usah jauh - jauh ke Inggris deh:

(via @padji)

Iya, kalo BBM naik harga-harga yang laen pada naik juga, tapi itu (naiknya harga BBM) isn’t something you can avoid now, amirite?

YAEMANGUDAHDARISONONYABEGITU!
Jangan manja deh lo semua.

Dan yang paling gak masuk akal itu, kenapa demo hari ini (di Medan) justru “menyerang” daerah-daerah yang GAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI sama kenaikan BBM?

Lo monyet - monyet semua ngapain pake ngerusak bandara?
Trus itu bakar-bakaran di depan Mall?
Di deket Mall itu ada 2 sekolahan berisi ANAK-ANAK SEKOLAH dan salah satunya adalah sekolah ponakan guweh, nyet.
Kalo tadi sampe rusuh, trus merembet ke sekolah - sekolah itu atau bahkan sampe ke Mall yang ada disitu, TRUS — HARGA BBM GA JADI NAIK GITU?!
Kalo lo udah pada ngerusak pagar dan ngelemparin bandara, TRUS — HARGA BBM GA JADI NAIK GITU?!
Kalo udah bentrok sama polisi sampe’ jatuh korban jiwa, TRUS — HARGA BBM GA JADI NAIK GITU?!

Coba dijawab!

Ah, elu ngomong begini karena masih mampu aja beli bahan bakar buat kendaraan lo, Yun!

Mungkin.
Tapi, kalau emang suatu saat saya udah gak sanggup lagi, JUAL AJA KENDARAANNYA.
Logikanya gampang kok, if you can’t afford to pay for something than DON’T buy it.
Gampang kan?

Lebih baik nuntut pemerintah untuk perbaikin angkutan umum dan trotoar.
Kalo BBM mahal, trus lo bisa pake otak dan sadar lebih baik gak usah punya terlalu banyak kendaraan (pribadi) atau terlalu sering naik mobil/motor kemana-mana, polusi bakal berkurang dan juga macet. 

Seneng gak hidup lo kalo begitu ceritanya?

Kalo bahan-bahan pokok yang juga bakal ikut naik seiring kenaikan BBM, itu sesuatu yang butuh kerjasama kita semua untuk nyari jalan keluarnya. PLISDEH, jangan cuma berharap pemerintah yang bakal ngerjain ini itu buat lo semua. Don’t be like a spoiled brat with 10 maids, sampe ngambil segelas aer buat minum sendiri aja musti nyuruh orang lain.
Udah tau pejabat-pejabatnya mayoritas sampah tak layak daur ulang, masih juga ngarepin banyak. Satu hal yang saya heran dari dulu, Indonesia ini negara yang kaya banget, BANGET, tapi kenapa masyarakatnya itu kok ya lebih banyak/sering menderitanya daripada bisa menikmati kekayaan negaranya sendiri? 

Trus itu, bro, sis dan adik-adik mahasiswa yang dengan gagah perkasa demo di bawah terik matahari, kenapa sih lo gak kuliah aja yang bener? Ciptain sesuatu untuk ngebuat keadaan jadi lebih baik? Sama-sama cari solusi untuk paragraf sebelumnya.
Lo pikir dengan demo rusuh begitu, lo makin pinter? Lo pikir kalo begitu, 10 taun lagi lo bisa jadi orang sukses? Orangtua lo - yang mungkin kerja setengah mati biar lo bisa kuliah - bakal bangga ama lo? Iya kalo lo selamet abis demo, kalo lo MATI kena peluru nyasar? Gimana perasaan orangtua lo?
NO, bukan nyumpahin, malah saya sebenernya sedih ngeliat mahasiswa - mahasiswa yang harus jadi korban, kehilangan nyawa — entah buat apa. Nyalahin polisi? Bok, se-gak suka - gak suka - nya lo, gue, kita semua ama polisi, most of the time they’re just trying to do their job yang adalah menjaga keamanan. Kalo lo udah mulai lempar batu sana sini, bakar sana sini, ya jangan salahin mereka dong kalau bertindak. Apalagi kalo lo juga kasar. What did you expect? For them to just stand still and do nothing while you throw things (most of the time, rocks) at them? Lo kate’ mereka figuran untuk lo latihan ngelempar jumroh?
Itu manusia kaleeeee … Punya keluarga juga di rumah. Mikir dong. 
Sekarang aja lo begini, koar-koar kenceng banget, jangan - jangan ntar lulus kuliah mentoknya jadi “PNS-cuma-rajin-ngisi-absen” juga (saya sih masih percaya kalo gak semuanya begitu, tapi — come on, most of them are like that. Who are we kidding here?).

Lo ngatain anggota DPR begini lah, begitu lah, kalo lo sendiri menganggap vandalisme dan (kemungkinan) melukai orang lain just to get your point across is better, well - boys and girls, it’s NOT. Sama aja lo semua sama orang - orang yang lo katain itu.
Reality check aja sih ini.

I’m all for freedom of speech and democracy, but those two things needs to be handle with responsibility. Otherwise you’re just going to be like a bunch of animals running crazy in a field or something.

And you, the so-called educated ones, fuckin’ act like one!
SRSLY.

Iya iya, emang sekarang udah susah “ngomong baek-baek” ama pemerintah kita tercinta ini, demo memang keliatannya jadi cara (menarik perhatian) yang efektif, tapi TIDAK dengan kerusuhan dan merugikan orang lain.

Because, people, PEOPLE, seriously — if you think you’re doing ME a favor because you’re all like “kita ini menyuarakan suara rakyat”, lemme tell you this: you can STOP doing that for me. I can do that by myself, thank you very much. 

So what I’m trying to say is, fucking stop acting like a bunch of barbarians animals. If you can’t afford something then fucking let it go. And we need more to cooperate rather than — doing crap like this if we want to make things better. 
I ain’t no nationalist chick or whatever, and I hate our government with a passion, but I do love this country. So.

Halah. Sampah omongannya nih perempuan.

Iye iye, sampaaah deh. Gpp dikatain nyampah juga.
Seenggaknya sampah yang ini masih bisa “didaur ulang” di otak lo, kalo lo mau.
Daripada kelakuan begitu?
Atau semacam sampah - sampah galau permanen?
Mending sampah beginian deh.

 

PS: 

Eh, bulan April ama Mei gak ada cerita lo ngerusuhin bandara lagi ya! Tunangan guweh mau dateng tuh! Jangan sampe ga jadi nikah guweh karena kalian. Olrait?
Okeh.

Episode 25: Emansipasi itu

… adalah sejenis makanan ringan.

*kemudian dikeroyok para feminis*

Minggu kemaren, entah kenapa, saya lumayan banyak terlibat pembicaraan yang menyinggung emansipasi atau melihat hal-hal yang nyenggol-nyenggol kesitu.

Ada 2 hal yang ngebuat saya selalu pengen ngakak jumpalitan sampe’ Afrika kalo udah ngomongin hal yang satu ini.

Pertama:

Perempuan-perempuan yang bacotnya paling berisik tereak-tereak soal emansipasi tapi suka pundung kalo pacarnya gak bukain pintu mobil buat dia. Atau ketika pacarnya gak mau bawain belanjaannya yang segudang. ATAU ketika sang pacar sibuk, gak sempet jemput  dan akhirnya si cewe harus naik angkutan umum atau - kalau mau yang agak elit dikit - naik taksi.

SISTAH, itu sih gak ada hubungannya sama emansipasi. Emang situ aja yang manja jadi perempuan.
*nunduk*
*sebelum disambit sendal*
Saya seumur-umur, beberapa kali pacaran, gak pernah sekali pun dijemput ama pacar. Kebetulan aja sekarang emang bawa kendaraan sendiri, tapi dulu, waktu masih merakyat dan naik angkot pun, saya gak pernah merasa nganter-jemput itu kewajiban seorang pacar. Buat saya itu kewajiban seorang supir (lain cerita kalo situ kebetulan harus pulang malem banget dan si pacar nyuruh naik angkot/taksi sementara doi gak ada kerjaan dan cuma duduk-duduk santai di rumah. Itu kayaknya emang nyai lagi macarin pria yang otaknya rada somplak).
Entah karena saya bukan tipikal perempuan yang kalo belanja itu sampe berpuluh-puluh biji, gak pernah juga saya berharap atau meminta pacar saya (pada saat itu) untuk ngebawain belanjaan saya. 

Yah kecuali kalo eneng-eneng sekalian itu belanja kulkas, mesin cuci ama meja makan yaaaaaa~~
Itu juga kayaknya bisa minta dianter ke rumah kan?

Pria yang membukan pintu mobil untuk kekasihnya *tsaaah!* itu memang “manis” ala film-film Hollywood gitu ya~ Tapi itu gak ada hubungannya ama emansipasi. 
Membantu membawakan barang-barang ketika pacarnya - atau wanita mana pun yang dia kenal atau dia rasa butuh bantuan - itu lebih pantes dianggep sopan santun atau etika.

Pria yang berdiri dan memberikan tempat duduknya di dalam bis untuk wanita hamil atau ibu-ibu tua, itu juga sopan santun. Kasarnya, ya bagus aja dia tau cara menggunakan otaknya.
Jadi kalo sis-sis sekalian itu masih muda belia dan segar bugar, gak usah pundung dan ngeluh harus berdiri di bis karena gak ada pria yang menawarkan tempat duduknya.

Giliran yang susah-susah dan bikin capek aja, ngeluh karena *MERASA* orang lain gak ngerti emansipasi. Padahal gak ada hubungannya juga.

XD 

Intinya, selama saya masih bisa ngapa-ngapain sendiri - masih punya sepasang kaki dan tangan - mbok ya jangan nyusahin orang gitu loh. Jangan jadi manja cuma mentang-mentang situ perempuan.
Agak menjijikkan soalnya.  

Kedua:

Emansipasi itu bukan justifikasi untuk melupakan kodrat. Jieee … sedep yak bahasanya. KODRAT. 
*kemudian masang konde*
*ala ala Ibu Kartini*

Ibu saya selalu bilang,”Perempuan, sehebat apa pun di luar sana, setinggi apa pun jabatannya, di rumah dia tetap seorang istri dan ibu. Dia tetap punya kewajiban pada suaminya dan juga kewajiban untuk mengurus anaknya.

Ibu saya dulu juga sibuk, tapi saya nggak pernah berangkat sekolah tanpa sarapan masakan beliau. Dan saya juga nggak pernah ngerjain PR tanpa ada beliau yang duduk disebelah saya, mengawasi, menemani dan mengajari.
Jadi kalau saya sih boleh sombong karena gak pernah ngerasain dibesarkan oleh babysitter (karena emang gak punya juga sih. XD) atau si Mbak yang kerja di rumah (walaupun pada saat itu ada lebih dari satu di rumah).

Kalau kata (almarhum) Papa saya,”Perempuan sekarang itu suka lupa diri mentang-mentang sudah punya banyak pilihan.

Kemarin ada sodara yang nanya ke saya (yang dalam waktu kurang dari 2 bulan akan menikah dan pindah ke benua lain atas nama “ikut suami”),
Nanti kalo disana bakal kerja gak? Trus kalo udah punya anak, gimana? Bakal pake babysitter dong ya?

Jawaban saya adalah,
Ya kerja dong, Tante. Sayang banget kuliah selama 350 taun seperti lamanya Indonesia dijajah Belada kalo toh abis itu cuma duduk-duduk di rumah dan gak ngapa-ngapain. Kalo udah punya anak ya berenti kerja. Ngurus anak dulu. Kalo dianya udah gede, baru cari kerja lagi. Atau kerja dari rumah aja. Gampang lah kalo sekarang mah. Babysitter? Aduuuuuh, Tanteeee … Disana itu, babysitter termasuk “barang” mewah. Gak kayak disini, selama ada duit, si Ibu gak punya kerjaan atau karir, sah-sah aja punya 20 babysitter untuk ngurusin SATU anaknya.

Jadi, sekali lagi, emansipasi itu bukan alasan untuk melupakan kodrat DAN juga bukan alesan untuk jadi manja. 

*benerin konde*

Malah harusnya itu ngebuat jadi lebih mandiri loh. 
Mandiri tapi tetep inget kodrat.
*teuteup*
XD 

Bukan sih, ini bukan merasa paling bener atau paling tau.
Just my two cents aja.

Agak gatel-gatel gimana gitu soalnya ngeliat perempuan-perempuan yang salah arah, entah karena mereka terlalu emansipasi banget atau … manja banget sampe pengen tak lempar batu bata.

Sekian, terima kasih dan silahkan dinikmati gorengannya.